Apa Itu Investment Grade dan Junk Bond?
8 Jul 2026
-
Waktu Baca 5 Menit

Pengertian dan Garis Pemisah
Dalam dunia obligasi, semua instrumen utang dibagi menjadi dua kategori besar berdasarkan credit rating-nya: investment grade dan speculative grade (yang lebih dikenal dengan sebutan junk bond atau high yield bond).
Investment Grade: obligasi dengan credit rating BBB− / Baa3 ke atas (skala S&P/Moody's). Dianggap memiliki risiko gagal bayar yang rendah dan layak untuk investasi oleh lembaga keuangan konservatif
Junk Bond / High Yield Bond / Speculative Grade: obligasi dengan rating BB+ / Ba1 ke bawah. Risiko gagal bayar lebih tinggi, tapi menawarkan yield yang lebih tinggi sebagai kompensasi
Garis pemisah antara BBB− dan BB+ adalah salah satu batas paling penting di seluruh pasar keuangan bukan sekadar perbedaan notch rating, tapi perbedaan yang memiliki konsekuensi hukum, regulatoris, dan pasar yang sangat nyata.
Mengapa garis ini begitu penting: Ribuan investor institusional dana pensiun, perusahaan asuransi, reksa dana konservatif memiliki investment policy statement yang melarang mereka membeli atau menahan obligasi di bawah investment grade. Ketika sebuah obligasi turun dari BBB− ke BB+ (jatuh ke junk), semua institusi ini terpaksa menjual secara bersamaan menciptakan tekanan jual masif yang sering menyebabkan harga jatuh jauh lebih dalam dari yang dibenarkan oleh perubahan fundamental.

Karakteristik Investment Grade
Siapa yang Menerbitkan
Obligasi investment grade umumnya diterbitkan oleh:
Pemerintah negara-negara dengan ekonomi kuat dan fiskal yang disiplin (termasuk Indonesia dengan rating BBB)
Perusahaan-perusahaan besar dengan neraca kuat, arus kas stabil, dan posisi kompetitif yang mapan
Lembaga supranasional seperti World Bank, ADB, dan IFC
Baca juga: Apa Itu Index Fund?
Karakteristik Pasar
Likuiditas tinggi: obligasi investment grade diperdagangkan dalam volume besar karena basis investornya yang luas termasuk semua investor institusional
Spread sempit: yield di atas obligasi pemerintah (credit spread) relatif kecil investor tidak meminta kompensasi besar karena risiko gagal bayar rendah
Volatilitas harga lebih rendah: lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga (interest rate risk) dibanding perubahan kondisi kredit perusahaan
Digunakan untuk diversifikasi: banyak investor konservatif menggunakan obligasi IG sebagai ballast (penyeimbang) dalam portofolio yang juga berisi saham
Karakteristik Junk Bond / High Yield
Mengapa Disebut 'Junk'?
Istilah 'junk bond' dipopulerkan di AS pada 1980-an. Awalnya, semua obligasi di bawah investment grade memang hanyalah obligasi perusahaan yang pernah investment grade lalu mengalami penurunan rating (fallen angels). Michael Milken dari Drexel Burnham Lambert kemudian mempelopori pasar junk bond 'asli' penerbitan obligasi sub-investment grade baru oleh perusahaan-perusahaan yang memang belum pernah mencapai investment grade, terutama untuk membiayai leveraged buyout (LBO). Istilah yang lebih netral adalah 'high yield bond.'
Baca juga: Apa Itu IPO (Initial Public Offering)?
Siapa yang Menerbitkan
Perusahaan yang belum memiliki track record kredit yang cukup (startup atau perusahaan muda yang sedang tumbuh)
Perusahaan di industri yang dianggap lebih berisiko secara struktural
Perusahaan dengan leverage tinggi misalnya akibat leveraged buyout
Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan tapi belum gagal bayar
Fallen angels perusahaan yang pernah investment grade lalu turun

Fallen Angel vs Rising Star
Fallen Angel: obligasi atau perusahaan yang pernah berperingkat investment grade lalu turun menjadi junk karena memburuknya kondisi keuangan. Peristiwa ini sangat disruptif karena memaksa penjualan massal dari investor yang hanya boleh pegang IG. Contoh: GE Capital selama pandemi 2020, berbagai perusahaan energi saat harga minyak jatuh 2015–2016.
Rising Star: obligasi atau perusahaan yang sebelumnya junk lalu berhasil meningkatkan rating ke investment grade. Ini adalah katalis positif besar tiba-tiba seluruh pool investor institusional bisa membeli obligasi ini, meningkatkan permintaan dan mendorong harga naik. Bagi investor yang berhasil mengidentifikasi rising star sebelum upgrade terjadi, returnnya bisa sangat besar.
Rising star sebagai strategi investasi: Beberapa investor spesialis secara aktif mencari perusahaan berrating BB+ atau BB yang sedang dalam jalur memperbaiki keuangannya calon-calon rising star. Jika analisis mereka tepat dan rating upgrade terjadi, return dari perpindahan junk ke investment grade bisa sangat signifikan.
Baca juga: Apa Itu Obligasi? Cara Kerja & Jenisnya
Kesimpulan
Garis antara investment grade dan junk bond adalah salah satu garis paling penting di seluruh pasar keuangan. Investment grade menawarkan keamanan dengan return yang lebih rendah, diakses oleh hampir semua investor institusional. Junk bond menawarkan return lebih tinggi dengan risiko lebih besar, dan memiliki perilaku yang lebih mirip saham daripada obligasi konservatif.
Untuk investor saham, pemahaman tentang perbedaan ini penting untuk: mengevaluasi risiko obligasi korporasi yang diterbitkan emiten, memahami konsekuensi dari perubahan rating terhadap biaya pinjaman emiten, dan memantau risiko sovereign Indonesia untuk memastikan negara tetap di jalur investment grade.
Takeaway utama: Tiga hal yang wajib dipantau: (1) apakah obligasi emiten yang kamu investasikan dalam kategori IG atau junk ini menentukan basis investor dan stabilitas harga; (2) ada tidaknya ancaman downgrade dari IG ke junk (fallen angel risk) yang bisa memicu forced selling masif; (3) sovereign rating Indonesia selama Indonesia di BBB atau di atasnya, pasar SBN tetap accessible oleh investor institusional global yang merupakan salah satu pillar stabilitas pasar keuangan Indonesia
Perjalanan investasi yang konsisten butuh komunitas dan panduan yang tepat. Bergabunglah sebagai Member Revalue Academy dan dapatkan akses ke materi, diskusi, dan mentor yang siap mendampingi Anda. Daftar di revalueacademy.id.




