Apa Itu Obligasi? Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya untuk Investor Pemula
12 Mei 2026
-
Waktu Baca 4 Menit
Pengertian Obligasi
Obligasi adalah surat utang jangka menengah hingga panjang yang diterbitkan oleh suatu pihak, bisa pemerintah, perusahaan, atau lembaga lainnya, kepada investor dengan janji akan membayar kembali pokok pinjaman beserta bunga (kupon) pada waktu yang telah ditentukan.
Sederhananya, ketika kamu membeli obligasi, kamu sedang meminjamkan uang kepada penerbit obligasi tersebut. Sebagai imbalannya, penerbit berjanji membayarkan bunga secara berkala (biasanya per kuartal atau per tahun) dan mengembalikan uang pokokmu saat obligasi jatuh tempo.
Obligasi termasuk dalam kategori instrumen pendapatan tetap (fixed income) karena memberikan arus kas yang relatif pasti dan terjadwal. Inilah yang membedakan obligasi dari saham yang pendapatannya bersifat variabel dan tidak dijamin.
Jenis-Jenis Obligasi
Berdasarkan Penerbit
Obligasi Pemerintah (Government Bond): Diterbitkan oleh pemerintah pusat. Di Indonesia contohnya Surat Utang Negara (SUN), Obligasi Ritel Indonesia (ORI), dan Sukuk Ritel (SR). Risiko paling rendah karena dijamin negara
Obligasi Korporasi (Corporate Bond): Diterbitkan oleh perusahaan swasta atau BUMN. Menawarkan kupon lebih tinggi dari obligasi pemerintah, namun risikonya juga lebih besar
Obligasi Daerah (Municipal Bond): Diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk membiayai proyek infrastruktur lokal
Baca juga: Apa Itu Feasibility Study (FS)?
Berdasarkan Jenis Kupon
Fixed Rate Bond: Tingkat bunga tetap sepanjang masa berlaku obligasi. Mudah diprediksi arus kasnya
Floating Rate Bond: Tingkat bunga mengambang, mengikuti acuan suku bunga pasar (misalnya suku bunga acuan Bank Indonesia/ BI-Rate). Memberikan perlindungan terhadap kenaikan suku bunga mengambang yang volatil
Zero Coupon Bond: Tidak membayar kupon berkala. Investor membeli dengan harga diskon dari nilai nominal dan mendapat keuntungan dari selisih harga beli dan nilai nominal saat jatuh tempo
Contoh: beli obligasi Rp 10 miliar (nilai nominal) dengan harga diskon Rp 8 miliar. Saat jatuh tempo 5 tahun kemudian, pembeli obligasi menerima kembali Rp 10 miliar sehingga keuntungannya adalah selisih Rp 2 miliar.
P=(1+r)nF
di mana F=10F = 10F=10 miliar, P=8P = 8P=8 miliar, n=5n = 5n=5
sehingga didapatkan rrr (return) = 4,56% per tahun
Berdasarkan Prinsip
Obligasi Konvensional: Menggunakan mekanisme bunga biasa
Sukuk (Obligasi Syariah): Berdasarkan prinsip syariah Islam, tidak menggunakan bunga melainkan bagi hasil atau sewa aset yang mendasarinya
Baca juga: Apa Itu Break Even Point? Pengertian Rumus dan Contohnya
Cara Kerja Obligasi
Berikut ilustrasi sederhana cara kerja obligasi:
PT ABC Tbk membutuhkan dana Rp 20 miliar untuk ekspansi bisnis
PT ABC menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp 1.000.000 per lembar, kupon 8% per tahun, tenor 5 tahun
Investor membeli 1 lembar obligasi tersebut artinya meminjamkan Rp 1.000.000 ke PT ABC
Setiap tahun selama 5 tahun, investor menerima kupon Rp80.000 (8% x Rp100.000.000)
Di akhir tahun ke-5 (jatuh tempo), PT ABC mengembalikan pokok pinjaman Rp1.000.000 kepada investor
Total penerimaan investor selama 5 tahun: Rp 400.000 kupon + Rp1.000.000 pokok = Rp1.400.000.
Baca juga: Apa Itu FTSE Russell & Status RI?
Harga Obligasi dan Hubungannya dengan Suku Bunga
Salah satu konsep paling penting dalam berinvestasi obligasi adalah hubungan terbalik antara harga obligasi dan suku bunga:
Suku bunga naik → Harga obligasi turun. Karena obligasi lama dengan kupon lebih rendah menjadi kurang menarik dibanding obligasi baru yang menawarkan kupon lebih tinggi
Suku bunga turun → Harga obligasi naik. Obligasi lama dengan kupon lebih tinggi menjadi lebih berharga.
Inilah mengapa saat bank sentral menaikkan suku bunga (seperti The Fed atau Bank Indonesia), harga obligasi di pasar sekunder cenderung turun.
Perbedaan Obligasi vs Saham
Aspek | Obligasi | Saham |
Status investor | Kreditur (pemberi pinjaman) | Pemilik perusahaan |
Imbal hasil | Kupon tetap/mengambang | Dividen (tidak pasti) + capital gain |
Risiko | Lebih rendah | Lebih tinggi |
Prioritas klaim | Didahulukan saat likuidasi | Paling akhir saat likuidasi |
Volatilitas harga | Lebih stabil | Lebih tinggi |
Potensi return | Terbatas tapi pasti | Tidak terbatas |
Risiko Investasi Obligasi
Risiko Gagal Bayar (Default Risk): Penerbit tidak mampu membayar kupon atau pokok. Ditunjukkan oleh peringkat kredit dari lembaga seperti Pefindo atau Moody’s
Risiko Suku Bunga: Kenaikan suku bunga menurunkan harga obligasi di pasar sekunder
Risiko Likuiditas: Sulit menjual obligasi sebelum jatuh tempo jika pasar sedang sepi
Risiko Inflasi: Jika inflasi lebih tinggi dari kupon, nilai riil investasi bisa tergerus
Kesimpulan
Obligasi adalah instrumen pendapatan tetap yang cocok untuk investor yang menginginkan arus kas yang lebih pasti dan risiko lebih rendah dibanding saham. Pemahaman tentang jenis obligasi, mekanisme kupon, dan hubungannya dengan suku bunga sangat penting sebelum mulai berinvestasi. Di Indonesia, obligasi pemerintah seperti ORI dan Sukuk Ritel bisa menjadi pilihan awal yang baik karena terjamin negara dan dapat dibeli dengan nominal terjangkau.


