Apa Itu Feasibility Study (Studi Kelayakan)?
7 Mei 2026
-
Waktu Baca 6 Menit

Pengertian Feasibility Study
Feasibility Study (FS) atau Studi Kelayakan adalah kajian komprehensif yang dilakukan sebelum suatu proyek, investasi, atau keputusan bisnis besar dijalankan. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah sebuah proyek layak secara teknis, finansial, operasional, dan hukum. Dalam konteks investasi saham di Indonesia, Feasibility Study sangat erat kaitannya dengan emiten-emiten pertambangan yang dimana setiap proyek ekspansi barunya akan dimulai dengan feasibility study dan menjadi hal yang diperhatikan investor.
Analogi sederhana: Sebelum membangun rumah, kamu tidak langsung panggil tukang dan beli material. Kamu survei tanah dulu, cek IMB, hitung anggaran, pastikan kontraktor ada, dan kalkulasi apakah harga jual nantinya menutup semua biaya dengan profit yang cukup. Itulah esensi feasibility study tapi untuk skala proyek korporasi.
Kapan Feasibility Study Dibutuhkan?
Proyek bersifat baru dan belum pernah dilakukan sebelumnya oleh perusahaan
Dibutuhkan pembiayaan eksternal dari bank bank hampir selalu mensyaratkan Feasibility Study sebelum menyetujui kredit proyek berskala besar
Perusahaan akan masuk ke industri atau geografi baru yang belum dipahami.
Ada kemungkinan dampak lingkungan atau sosial yang signifikan dan perlu dikaji
Manajemen atau dewan komisaris membutuhkan basis analisis independen sebagai justifikasi keputusan kepada pemegang saham
Komponen Utama Feasibility Study
1. Kajian Teknis
Dasar dari seluruh Feasibility Study adalah untuk menjawab pertanyaan, apakah proyek ini bisa dibangun dan dijalankan secara teknis? Mencakup desain teknis dan engineering, kapasitas produksi, ketersediaan sumber daya (bahan baku, air, energi), estimasi cadangan untuk tambang, jadwal konstruksi, serta OPEX dan CAPEX yang dibutuhkan.
Semua proyeksi keuangan dalam Feasibility Study dibangun di atas asumsi teknis. Jika asumsi teknis salah misalnya kapasitas produksi overestimated atau kadar bijih tambang ternyata lebih rendah dari estimasi maka seluruh model keuangan tidak valid. Investor institusional selalu mengecek track record konsultan teknis yang menyusun Feasibility Study, bukan hanya angka yang dihasilkan.
2. Kajian Pasar dan Komersial
Bagian ini menjawab, siapa yang akan membeli produk atau jasa ini, berapa harganya, dan apakah ada pasar yang cukup besar? Mencakup analisis supply dan demand, proyeksi harga komoditas, analisis kompetitor, strategi penjualan (termasuk apakah sudah ada off-take agreement), dan sensitivitas terhadap perubahan harga.
Baca juga: Apa Itu DCA? Strategi Investasi Rutin
3. Kajian Finansial
Bagian yang paling sering diperhatikan investor karena menghasilkan angka-angka yang langsung bisa diinterpretasikan. Menghasilkan tiga metrik kelayakan utama:
Net Present Value (NPV): Nilai sekarang dari seluruh arus kas bersih proyek selama umurnya, didiskontokan menggunakan discount rate (WACC atau required rate of return).
NPV = Σ [Cash Flow_t ÷ (1 + r)^t] − Initial Investment
NPV > 0 = proyek layak , NPV < 0 = proyek menghancurkan nilai (value-dilutive)
Internal Rate of Return (IRR): Tingkat diskonto yang membuat NPV proyek sama dengan nol, berapa return tahunan yang dihasilkan proyek ini?. Proyek layak jika IRR > hurdle rate (WACC perusahaan). Semakin besar selisih IRR vs WACC, semakin menarik dan semakin tahan terhadap risiko overrun biaya.
Payback Period: Berapa tahun modal awal kembali dari arus kas proyek. Metrik paling sederhana tapi paling terbatas karena tidak mempertimbangkan nilai waktu uang dan arus kas setelah payback period selesai.
Baca juga: Apa Itu Dead Cat Bounce & Cara Hindari
4. Kajian Operasional
Apakah perusahaan memiliki kapabilitas untuk menjalankan proyek ini? Mencakup ketersediaan SDM, struktur organisasi proyek, kesiapan sistem IT/ERP, dan supply chain untuk bahan baku dan komponen kritis.
5. Kajian Hukum dan Regulasi
Apakah proyek ini bisa dijalankan secara legal? Mencakup perizinan yang dibutuhkan (AMDAL, izin lokasi, izin konstruksi, izin operasional), kepatuhan terhadap regulasi sektoral, perjanjian-perjanjian yang perlu disiapkan, dan risiko perubahan regulasi.
6. Kajian Lingkungan dan Sosial
Semakin penting dalam era ESG. Mencakup AMDAL (wajib untuk proyek berdampak lingkungan signifikan), dampak sosial ke komunitas lokal, rencana reklamasi dan penutupan tambang, serta carbon footprint dan strategi dekarbonisasi.
Feasibility Study dalam Industri Pertambangan
Standar Pelaporan: JORC dan KCMI
Estimasi cadangan dan sumber daya dalam Feasibility Study tambang harus mengikuti standar pelaporan internasional:
JORC Code: standar Australia yang banyak digunakan emiten tambang di BEI, terutama yang memiliki pemegang saham asing
KCMI (Kode Cadangan Mineral Indonesia): standar yang diwajibkan OJK untuk emiten tambang Indonesia mulai 2017
Keduanya mengklasifikasikan cadangan ke dalam kategori yang menunjukkan tingkat keyakinan geologis: Inferred → Indicated → Measured (untuk Resources) dan Probable → Proved (untuk Reserves). Semakin tinggi kategorinya, semakin pasti cadangan tersebut bisa ditambang secara ekonomis.
Kenapa penting untuk investor: Emiten yang mengumumkan upgrade cadangan dari Inferred ke Indicated atau Proved adalah sentimen positif signifikan, ketidakpastian geologis berkurang dan proyek semakin derisked. Sebaliknya, downgrade cadangan dalam Feasibility Study dibanding Pre-Feasibility Study sebelumnya adalah sinyal negatif yang bisa sangat menekan harga saham.
Menggunakan Hasil Feasibility Study dalam Analisis Saham
1. Validasi Klaim Manajemen
Ketika manajemen mengumumkan rencana ekspansi besar, Feasibility Study adalah cara untuk memvalidasi klaim mereka. Apakah IRR yang diklaim realistis? Apakah asumsi harga komoditas dalam Feasibility Study konservatif atau terlalu optimistis dibanding konsensus analis?
2. Estimasi Nilai Proyek untuk Valuasi
Dengan data NPV dari Feasibility Study, investor bisa memperkirakan berapa nilai yang akan ditambahkan proyek tersebut ke valuasi keseluruhan perusahaan (sum-of-the-parts valuation). Metode ini sering digunakan untuk menilai perusahaan tambang yang punya beberapa proyek di berbagai tahap pengembangan.
3. Baca Analisis Sensitivitas
Feasibility Study yang baik selalu menyertakan analisis sensitivitas. Perhatikan:
• Bagaimana NPV berubah jika harga komoditas turun 20%?
• Bagaimana IRR berubah jika biaya konstruksi overrun 15%?
• Bagaimana payback period berubah jika produksi terlambat 1 tahun?
Analisis ini membantu investor memahami seberapa robust proyek terhadap berbagai skenario buruk seberapa besar margin of safety yang dimiliki.
Baca juga: Pengertian Book Value, Rumus, dan Cara Menggunakannya
4. Monitor Milestone: Pre-Feasibility Study → Feasibility Study → Definitive Feasibility Study → Final Investment Decision → First Production
Setiap upgrade dari satu level studi ke level yang lebih tinggi mengurangi risiko proyek dan bisa menjadi katalis investasi. Pengumuman FID (Final Investment Decision) adalah komitmen bahwa konstruksi dimulai milestone paling signifikan.
Risiko yang perlu diwaspadai: Tidak semua proyek yang memiliki Feasibility Study bagus akhirnya berhasil dibangun. Risiko yang paling sering membunuh proyek setelah Feasibility Study selesai: (1) kegagalan mendapatkan pembiayaan; (2) perubahan harga komoditas; (3) masalah perizinan atau penolakan komunitas; dan (4) overrun biaya konstruksi. Feasibility Study yang baik akan mendiskusikan semua risiko ini tugas investor adalah menilai seberapa realistis mitigasinya.
Kesimpulan
Feasibility Study adalah dokumen pengambilan keputusan yang paling penting dalam siklus hidup sebuah proyek investasi korporasi. Ia mengintegrasikan kajian teknis, pasar, finansial, operasional, hukum, dan lingkungan menjadi satu kesimpulan: apakah proyek ini layak dijalankan dan menguntungkan?
Ketika emiten mengumumkan hasil Feasibility Study, jangan hanya lihat IRR headline-nya. Cek asumsi harga yang digunakan, analisis sensitivitasnya, dan level akurasi studinya. Feasibility Study yang solid dengan asumsi konservatif dan masih menghasilkan IRR yang tinggi adalah fondasi yang jauh lebih kuat untuk investasi dibanding Feasibility Study dengan asumsi agresif yang hanya terlihat bagus di skenario bull case.
Ingin belajar lebih dalam tentang analisis saham bersama mentor berpengalaman? Ikuti Masterclass Revalue Academy dan kuasai cara memilih saham yang tepat. Cek jadwal dan daftarkan diri Anda di revalueacademy.id.


