Apa Itu Stock Split dan Reverse Stock Split?
30 Agu 2026
-
Waktu Baca 6 Menit

Definisi Stock Split
Stock Split atau Pemecahan Saham adalah aksi korporasi di mana perusahaan membagi setiap lembar saham yang ada menjadi beberapa lembar saham baru dengan nilai nominal yang lebih kecil, sehingga jumlah saham beredar bertambah secara proporsional. Harga per lembar saham turun secara proporsional, tapi total nilai kepemilikan investor tidak berubah.
Kalau itu terdengar seperti tidak ada yang berubah secara fundamental memang benar. Stock split adalah aksi korporasi yang tidak mengubah nilai total perusahaan (market cap tetap sama), tidak mengubah porsi kepemilikan investor, dan tidak mengubah fundamental bisnis apapun. Yang berubah hanya jumlah lembar saham dan harga per lembarnya.
Analogi sederhana: Bayangkan kamu punya satu lembar uang Rp 100.000. Bank menawarkan untuk menukarnya dengan sepuluh lembar Rp 10.000. Total uangmu tetap Rp 100.000 tapi sekarang kamu punya 10 lembar yang lebih mudah digunakan untuk transaksi kecil. Itulah esensi stock split.

Cara Kerja: Rasio Split
Stock split dilakukan dengan rasio tertentu misalnya 2:1, 5:1, atau 10:1. Artinya setiap 1 lembar saham lama dipecah menjadi 2, 5, atau 10 lembar saham baru. Harga saham turun secara proporsional.
Rasio Split | Saham Sebelum | Saham Sesudah | Harga Sebelum | Harga Sesudah | Market Cap |
2:1 | 1.000 lembar | 2.000 lembar | Rp 10.000 | Rp 5.000 | Rp 10 juta (tetap) |
5:1 | 1.000 lembar | 5.000 lembar | Rp 10.000 | Rp 2.000 | Rp 10 juta (tetap) |
10:1 | 1.000 lembar | 10.000 lembar | Rp 10.000 | Rp 1.000 | Rp 10 juta (tetap) |
Mengapa Perusahaan Melakukan Stock Split?
1. Menurunkan Harga agar Lebih Terjangkau
Alasan paling umum. Ketika harga saham sudah sangat tinggi misalnya Rp 50.000 atau Rp 100.000 per lembar investor ritel dengan modal terbatas kesulitan untuk membeli bahkan satu lot (100 lembar = Rp 5–10 juta). Dengan split, harga per lembar turun ke level yang lebih mudah dijangkau, memperluas basis investor potensial.
Contoh: BBCA (Bank Central Asia) pernah melakukan stock split beberapa kali untuk menjaga harga saham di level yang accessible bagi investor ritel, setelah harga terus naik akibat kinerja fundamental yang kuat.
2. Meningkatkan Likuiditas Perdagangan
Harga saham yang lebih rendah per lembar biasanya mendorong volume transaksi yang lebih tinggi karena lebih banyak investor yang bisa dan mau berpartisipasi. Likuiditas yang lebih tinggi mengurangi bid-ask spread dan membuat harga lebih efisien terbentuk di pasar.
3. Sinyal Kepercayaan Diri Manajemen
Perusahaan biasanya hanya melakukan stock split ketika harga saham sudah naik sangat tinggi yang berarti bisnis sedang berjalan baik. Pengumuman stock split sering diinterpretasikan pasar sebagai sinyal positif bahwa manajemen percaya diri dengan prospek perusahaan ke depan. Secara historis, saham sering naik setelah pengumuman split.
Baca juga: Apa Itu Alokasi Aset? Strategi Membangun Portofolio Investasi
Definisi Reverse Stock Split
Reverse Stock Split atau Penggabungan Saham adalah kebalikan dari stock split: beberapa lembar saham digabungkan menjadi satu lembar saham baru dengan nilai nominal yang lebih besar. Jumlah saham beredar berkurang, harga per lembar naik secara proporsional, tapi total nilai kepemilikan investor tetap tidak berubah.
Analogi sederhana: Balik dari analogi sebelumnya: sepuluh lembar Rp 10.000 digabung menjadi satu lembar Rp 100.000. Total uangmu tetap sama, tapi sekarang kamu punya lebih sedikit lembar dengan denominasi lebih besar.
Cara Kerja: Rasio Reverse Split
Reverse split juga dilakukan dengan rasio tertentu misalnya 1:2, 1:5, atau 1:10. Artinya setiap 2, 5, atau 10 lembar saham lama digabung menjadi 1 lembar saham baru.
Contoh: Kamu punya 10.000 lembar saham di harga Rp 50/lembar (total Rp 500.000). Perusahaan melakukan reverse split 1:10. Kamu sekarang punya 1.000 lembar di harga Rp 500/lembar. Total nilai tetap Rp 500.000.

Mengapa Perusahaan Melakukan Reverse Stock Split?
1. Menghindari Delisting
Ini adalah alasan paling umum dan paling menghawatirkan. Bursa efek memiliki aturan harga minimum untuk saham yang listed. Di BEI, saham dengan harga di bawah Rp 50/lembar dalam jangka waktu tertentu berisiko terkena suspension atau delisting. Perusahaan yang harganya sudah sangat rendah melakukan reverse split untuk menaikkan harga secara artifisial agar tetap memenuhi syarat listing.
Sinyal bahaya: Reverse stock split yang dilakukan untuk menghindari delisting hampir selalu merupakan sinyal negatif ia mencerminkan bahwa harga saham sudah jatuh sangat jauh (biasanya karena fundamental bisnis yang buruk) dan perusahaan berusaha membeli waktu. Tanpa perbaikan fundamental, harga biasanya akan terus turun bahkan setelah reverse split.
2. Menjaga Persepsi Harga
Beberapa investor institusional memiliki batasan internal untuk tidak membeli saham di bawah harga tertentu per lembar. Reverse split bisa dilakukan untuk menaikkan harga ke level yang lebih 'layak' di mata investor institusional.
3. Mengurangi Jumlah Pemegang Saham (Going Private)
Kadang perusahaan yang ingin go private melakukan reverse split dengan rasio sangat besar misalnya 1:1000. Pemegang saham kecil yang totalnya kurang dari 1 lembar saham baru akan mendapat kompensasi tunai, bukan saham pecahan. Ini secara efektif membeli keluar pemegang saham kecil dan mengurangi jumlah pemegang saham hingga di bawah batas yang mewajibkan pelaporan publik.
Baca juga: Apa Itu Private Credit? Risiko & Cara Kerja
Stock Split vs Reverse Stock Split: Perbandingan
Aspek | Stock Split | Reverse Stock Split |
Jumlah saham | Bertambah | Berkurang |
Harga per lembar | Turun proporsional | Naik proporsional |
Market cap | Tetap sama | Tetap sama |
Nilai kepemilikan investor | Tetap sama | Tetap sama |
Sinyal yang biasa dibaca pasar | Positif saham naik tinggi, manajemen percaya diri | Negatif harga terlalu rendah, potensi masalah fundamental |
Alasan umum | Harga terlalu mahal, tingkatkan likuiditas | Hindari delisting, penuhi syarat institusional |
Dampak ke Rasio Keuangan
Stock split dan reverse split tidak mengubah fundamental bisnis, tapi mengubah beberapa angka per-saham yang perlu disesuaikan:
EPS (Earnings Per Share): turun proporsional setelah stock split, naik setelah reverse split tapi ini hanya efek mekanis, bukan perubahan profitabilitas aktual
P/E Ratio: tidak berubah harga dan EPS keduanya bergerak proporsional, sehingga rasionya tetap sama
Book Value Per Share: berubah proporsional tapi Price/Book Value tetap sama
Dividend per share: disesuaikan proporsional setelah split
Saat membandingkan data historis emiten yang pernah melakukan split, pastikan data harga dan EPS sudah disesuaikan (adjusted) untuk split tersebut agar perbandingan apel ke apel.
Baca juga: Apa Itu P/E Ratio? Cara Hitung & Contoh
Kesimpulan
Stock split dan reverse stock split adalah aksi korporasi yang tidak mengubah nilai fundamental perusahaan keduanya hanya mengubah kemasan, bukan isinya. Yang berubah hanya jumlah lembar dan harga per lembar, sementara total nilai kepemilikan investor tetap sama.
Namun keduanya membawa sinyal yang sangat berbeda: stock split biasanya sinyal positif dari perusahaan yang sedang dalam kondisi baik, sementara reverse stock split terutama jika dilakukan untuk menghindari delisting hampir selalu sinyal bahwa ada masalah serius yang perlu diwaspadai.
Ingin belajar lebih dalam tentang analisis saham bersama mentor berpengalaman? Ikuti Masterclass Revalue Academy dan kuasai cara memilih saham yang tepat. Cek jadwal dan daftarkan diri Anda di revalueacademy.id




