Apa Itu Akuisisi? Pengertian, Jenis, dan Dampaknya pada Saham
30 Apr 2026
-
Waktu Baca 4 Menit

Pengertian Akuisisi
Akuisisi adalah proses pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian suatu perusahaan oleh perusahaan lain melalui pembelian saham atau aset. Dalam akuisisi, perusahaan yang diambil alih (target company) tetap berdiri sebagai entitas hukum terpisah, meskipun kendali operasional dan kepemilikan mayoritas sudah berpindah ke tangan perusahaan pengakuisisi (acquirer).
Di pasar saham Indonesia, akuisisi termasuk aksi korporasi material yang wajib diumumkan ke publik melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengumuman akuisisi sering kali langsung menggerakkan harga saham kedua belah pihak secara dramatis, bisa naik maupun turun tergantung persepsi pasar terhadap kualitas kesepakatan tersebut.
Perbedaan Akuisisi dan Merger
Banyak orang menyamakan akuisisi dengan merger, padahal keduanya berbeda secara fundamental:
Akuisisi: Perusahaan A membeli perusahaan B. Perusahaan B tetap ada sebagai entitas hukum, namun kini dikuasai A. Kedua perusahaan tetap beroperasi terpisah (atau tidak, tergantung keputusan strategis).
Merger: Perusahaan A dan B bergabung menjadi satu entitas baru. Salah satu atau keduanya bisa lebur. Identitas hukum baru dibentuk atau salah satu menyerap yang lain.
Sederhananya: dalam akuisisi, yang 'dimakan' tetap ada namanya. Dalam merger, keduanya melebur menjadi satu.
Jenis-Jenis Akuisisi
1. Akuisisi Saham (Share Acquisition)
Acquirer membeli saham perusahaan target langsung dari para pemegang sahamnya. Ini cara paling umum di pasar modal. Jika acquirer berhasil menguasai lebih dari 50% saham, mereka mendapat kendali penuh atas perusahaan target termasuk kendali atas manajemen dan arah strategi bisnis.
2. Akuisisi Aset (Asset Acquisition)
Acquirer membeli aset-aset spesifik milik perusahaan target, bukan sahamnya. Metode ini cocok ketika acquirer hanya tertarik pada sebagian bisnis tertentu misalnya pabrik, merek, paten, atau database pelanggan tanpa ingin menanggung liabilitas keseluruhan perusahaan.
3. Hostile Takeover
Akuisisi yang dilakukan tanpa persetujuan manajemen perusahaan target. Acquirer biasanya langsung mendekati pemegang saham dengan penawaran harga premium untuk mendapatkan kendali, melewati manajemen yang menolak. Ini lebih umum di pasar global dibanding Indonesia, namun tidak mustahil terjadi.
4. Friendly Takeover
Sebaliknya, friendly takeover terjadi dengan persetujuan dan kerja sama penuh dari manajemen perusahaan target. Kedua pihak bernegosiasi harga dan syarat secara bersama, lalu mempresentasikan hasilnya kepada pemegang saham untuk disetujui.
Mengapa Perusahaan Melakukan Akuisisi?
Ada beragam motivasi di balik keputusan akuisisi, antara lain:
Ekspansi cepat: Menguasai pasar baru tanpa harus membangun bisnis dari nol jauh lebih cepat dan sering kali lebih murah.
Akses teknologi & SDM: Mendapatkan teknologi, paten, atau tim yang sudah terbukti.
Diversifikasi: Masuk ke lini bisnis atau industri baru untuk mengurangi ketergantungan pada satu segmen.
Eliminasi kompetitor: Menghapus pesaing langsung di pasar yang sama.
Economies of scale: Menggabungkan operasi untuk memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi.
Undervalued assets: Membeli perusahaan yang dianggap bernilai lebih dari harga pasarnya.
Dampak Akuisisi pada Harga Saham
Akuisisi umumnya berdampak berbeda pada harga saham kedua perusahaan:
Perusahaan target (yang diakuisisi): Harga saham biasanya naik signifikan karena acquirer umumnya menawar di atas harga pasar (akuisisi premium). Kenaikan 20-40% dalam sehari bukan hal yang langka.
Perusahaan pengakuisisi (acquirer): Reaksinya lebih beragam. Pasar merespons positif jika akuisisi dinilai strategis dan value-accretive, atau negatif jika dianggap terlalu mahal (overpaying) atau tidak relevan secara strategis.
Contoh Akuisisi di Indonesia
Salah satu contoh akuisisi besar adalah ketika BRI mengakuisisi Bank Agroniaga (kini BRI Agro). Langkah ini memungkinkan BRI memperluas layanan ke segmen agribisnis secara instan tanpa membangun bank baru dari awal. Efisiensi tercapai karena infrastruktur BRI yang sudah besar langsung bisa dimanfaatkan oleh nasabah BRI Agro.
Contoh lain di sektor teknologi adalah berbagai akuisisi yang dilakukan perusahaan teknologi besar untuk memperkuat ekosistem digital mereka mulai dari startup fintech, logistik, cloud, hingga e-commerce.
Hal yang Perlu Diperhatikan Investor saat Ada Pengumuman Akuisisi
Rasionalitas strategis: Apakah akuisisi ini masuk akal secara bisnis? Ada sinergi yang jelas?
Harga akuisisi: Apakah acquirer membayar harga wajar? Overpaying bisa menghancurkan nilai bagi pemegang saham acquirer.
Metode pembiayaan: Akuisisi yang dibiayai utang besar membebani neraca. Yang dibiayai saham baru bisa dilutif bagi pemegang saham lama.
Track record integrasi: Apakah manajemen punya rekam jejak sukses mengintegrasikan akuisisi sebelumnya?
Kesimpulan
Akuisisi adalah strategi pertumbuhan anorganik yang bisa menjadi katalis positif maupun negatif tergantung kualitas kesepakatan dan eksekusi integrasinya. Sebagai investor, selalu evaluasi setiap pengumuman akuisisi dengan kritis: lihat nilai yang diciptakan, harga yang dibayar, cara pembiayaannya, dan rencana integrasi pasca-akuisisi. Akuisisi yang tepat bisa menjadi game-changer bagi perusahaan, tapi akuisisi yang salah bisa jadi beban bertahun-tahun di neraca keuangan.


