Apa Itu Quantitative Easing (QE)?
7 Agu 2026
-
Waktu Baca 5 Menit

Definisi Quantitative Easing
Quantitative Easing (QE) adalah kebijakan moneter non-konvensional di mana bank sentral membeli aset keuangan dalam jumlah besar (terutama obligasi pemerintah dan surat berharga lainnya) dari pasar terbuka, dengan tujuan menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan, menekan suku bunga jangka panjang, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
QE digunakan sebagai senjata terakhir ketika kebijakan moneter konvensional menurunkan suku bunga jangka pendek sudah tidak efektif lagi karena suku bunga sudah mendekati atau berada di nol (zero lower bound). Dalam kondisi itu, bank sentral tidak bisa menurunkan suku bunga lebih jauh, sehingga harus mencari cara lain untuk menstimulasi ekonomi.
Analogi sederhana: Bayangkan ekonomi adalah mesin yang mogok. Kebijakan moneter normal ibaratkan kita memutar kunci kontak (turunkan suku bunga). Tapi jika aki sudah habis total (suku bunga sudah nol), putar kunci kontak tidak berguna lagi. QE adalah seperti mendorong mobil dari belakang cara paksa untuk menghidupkan mesin ekonomi ketika cara normal tidak bekerja.

Cara Kerja QE
Mekanisme Dasar
Ketika bank sentral melakukan QE, prosesnya adalah:
Bank sentral membeli obligasi pemerintah (dan kadang aset lain seperti mortgage-backed securities/MBS) dari bank-bank komersial dan institusi keuangan di pasar sekunder
Sebagai pembayaran, bank sentral mengkredit rekening cadangan (reserve account) bank-bank tersebut secara efektif 'mencetak uang digital' baru
Cadangan bank-bank meningkat drastis → mereka punya lebih banyak likuiditas untuk disalurkan sebagai kredit
Permintaan obligasi yang tinggi dari bank sentral mendorong harga obligasi naik → yield (imbal hasil) obligasi turun
Yield obligasi yang lebih rendah menekan suku bunga kredit dan KPR → mendorong pinjaman dan investasi
Transmisi ke Pasar Saham
QE memengaruhi pasar saham melalui beberapa jalur:
Portfolio rebalancing: ketika yield obligasi turun karena QE, investor terpaksa beralih ke aset yang lebih berisiko dan memberikan return lebih tinggi yaitu saham.
Discount rate lebih rendah: dalam model DCF, yield obligasi adalah komponen discount rate. Yield yang lebih rendah = discount rate lebih rendah = nilai intrinsik saham lebih tinggi
Wealth effect: kenaikan harga aset (saham dan properti) membuat pemiliknya merasa lebih kaya → konsumsi meningkat → ekonomi terdorong
Credit availability: bank dengan likuiditas berlimpah lebih mudah memberikan kredit ke bisnis → ekspansi usaha → pertumbuhan laba
Baca juga: Apa Itu Valuasi Saham?
Sejarah QE: Dari Krisis 2008 hingga Pandemi
QE1, QE2, QE3 Era Pasca-2008
QE pertama kali diterapkan secara besar-besaran oleh Federal Reserve (The Fed) AS setelah krisis keuangan global 2008. Sistem perbankan hampir kolaps, kredit macet, dan ekonomi masuk resesi dalam. Fed Funds Rate sudah dipangkas ke mendekati nol tapi tidak cukup.
QE1 (Nov 2008 – Mar 2010): Fed membeli mortgage-backed securities/MBS senilai USD 1,25 triliun dan obligasi pemerintah USD 300 miliar. Tujuan: menyelamatkan pasar perumahan dan sistem keuangan
QE2 (Nov 2010 – Jun 2011): Fed membeli USD 600 miliar obligasi Treasury. Tujuan: mendorong pertumbuhan dan mencegah deflasi
QE3 (Sep 2012 – Okt 2014): program open-ended (tanpa jumlah tetap), membeli USD 85 miliar/bulan sampai kondisi ekonomi membaik. Neraca Fed membengkak dari di bawah USD 1 triliun (pra-2008) ke USD 4,5 triliun
QE Pandemi Terbesar dalam Sejarah
Ketika COVID-19 menghantam ekonomi global di Maret 2020, Fed langsung merespons dengan program QE terbesar dalam sejarah. Dalam hitungan minggu, Fed mengumumkan pembelian aset tanpa batas (unlimited QE) berapa pun yang dibutuhkan untuk menstabilkan pasar.
Maret 2020: Fed mengumumkan pembelian USD 700 miliar aset (langsung ditingkatkan jadi unlimited)
Puncak neraca Fed: USD 8,93 triliun pada Juni 2022 lebih dari 8 kali lipat ukurannya sebelum krisis 2008
Seluruh spektrum dimasukkan: obligasi Treasury, MBS, bahkan obligasi korporasi dan ETF obligasi pertama kali dalam sejarah Fed membeli aset swasta
Baca juga: Pengertian Book Value, Rumus, dan Cara Menggunakannya

Dampak QE dan QT ke Pasar Saham dan Indonesia
Dampak QE (Pelonggaran)
Harga saham naik: QE secara historis berkorelasi kuat dengan rally pasar saham global S&P 500 naik lebih dari 400% dari 2009 ke 2021 selama era QE
Capital inflow ke emerging markets: likuiditas berlimpah mendorong investor mencari yield lebih tinggi di pasar berkembang termasuk Indonesia → IHSG cenderung naik, Rupiah menguat
Harga komoditas naik: uang murah mendorong spekulasi di pasar komoditas → harga minyak, emas, dan logam industri naik
Valuasi saham melebar: dengan discount rate yang rendah, P/E ratio yang 'wajar' menjadi lebih tinggi
Dampak QT (Pengetatan)
Harga saham tertekan: yield naik → discount rate naik → valuasi turun. Growth stocks paling terdampak
Capital outflow dari emerging markets: investor menarik dana dari pasar berkembang kembali ke aset safe haven AS → IHSG tertekan, Rupiah melemah
Kredit lebih ketat: bank-bank kurang likuid → penyaluran kredit menurun → pertumbuhan ekonomi melambat
Baca juga: Apa Itu Obligasi? Cara Kerja & Jenisnya
Kesimpulan
Quantitative Easing adalah kebijakan moneter non-konvensional yang menjadi andalan bank sentral global sejak krisis 2008 dan telah terbukti memiliki dampak yang sangat besar terhadap pasar aset global termasuk saham dan komoditas. Era QE pandemi menciptakan neraca Fed yang membengkak hingga USD 8,93 triliun, sebelum QT memangkasnya kembali ke ~USD 6,5 triliun pada akhir 2025.
Memasuki 2026, siklus QT resmi berakhir dan Fed berada dalam mode 'netral' tidak aktif mengecilkan neraca tapi juga belum mengumumkan QE penuh. Posisi ini menciptakan ketidakpastian yang menjadi salah satu variabel makro terpenting yang dipantau pasar global saat ini.
Takeaway utama: Sebagai investor, pahami bahwa QE = angin segar untuk aset berisiko (saham, komoditas, emerging market) dan QT = angin kepala. Pantau neraca Fed dan pernyataan FOMC sebagai salah satu indikator makro terpenting untuk memahami arah sentimen pasar global dan implikasinya ke IHSG dan Rupiah.
Ingin belajar lebih dalam tentang analisis saham bersama mentor berpengalaman? Ikuti Masterclass Revalue Academy dan kuasai cara memilih saham yang tepat. Cek jadwal dan daftarkan diri Anda di revalueacademy.id.




