Apa Itu Rights Issue (HMETD)?
5 Agu 2026
-
Waktu Baca 5 Menit

Pengertian Rights Issue
Rights Issue atau dalam istilah Indonesia disebut HMETD (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu) adalah aksi korporasi di mana perusahaan yang sudah tercatat di bursa menerbitkan saham baru dan menawarkannya terlebih dahulu kepada pemegang saham lama. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan modal tambahan (fundraising).
Kata kuncinya adalah 'terlebih dahulu' pemegang saham lama mendapat hak prioritas untuk membeli saham baru sebelum ditawarkan ke publik umum. Hak ini yang disebut HMETD, dan bisa diperdagangkan di bursa selama periode tertentu layaknya saham biasa.
Analogi sederhana: Bayangkan kamu punya 10% saham di sebuah usaha kopi. Usaha itu butuh modal tambahan untuk buka cabang baru. Daripada mengundang investor baru yang, perusahaan menawarkan kamu kesempatan untuk membeli saham baru dulu.

Cara Kerja Rights Issue
Rasio dan Harga Pelaksanaan
Dalam pengumuman rights issue, dua angka paling penting adalah rasio dan harga pelaksanaan (exercise price):
Rasio: menunjukkan berapa HMETD yang diperoleh per lembar saham yang dimiliki, dan berapa saham baru yang bisa dibeli dengan HMETD tersebut. Misal, rasio 4:1 artinya setiap 4 saham lama, pemegang saham mendapat hak untuk membeli 1 saham baru.
Harga pelaksanaan: harga di mana HMETD bisa dieksekusi untuk membeli saham baru.
Contoh: Kamu punya 4.000 lembar saham PT ABC. Perusahaan mengumumkan rights issue dengan rasio 4:1 dan harga pelaksanaan Rp 800/lembar. Artinya kamu mendapat 1.000 HMETD dan bisa membeli 1.000 saham baru seharga Rp 800.000 total. Jika harga pasar saham saat ini Rp 1.000, kamu mendapat diskon Rp 200/lembar.
Baca juga: Apa Itu Windfall Tax dan Royalti?
Timeline Rights Issue
Pengumuman RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham): persetujuan pemegang saham atas rencana rights issue
Pernyataan pendaftaran ke OJK: dokumen lengkap termasuk prospektus rights issue diajukan dan disetujui OJK
Cum-date: hari terakhir saham diperdagangkan dengan hak HMETD melekat. Investor yang beli saham di atau sebelum cum-date mendapat HMETD
Ex-date: hari pertama saham diperdagangkan tanpa HMETD. Harga saham biasanya turun pada hari ini mencerminkan nilai HMETD yang sudah terpisah
Tanggal pencatatan HMETD: HMETD mulai bisa diperdagangkan di bursa
Periode perdagangan HMETD: biasanya 5 hari bursa, HMETD diperdagangkan layaknya saham
Periode pelaksanaan: pemegang HMETD mengeksekusi haknya dengan membayar harga pelaksanaan
Saham baru dicatatkan di bursa
Dampak Dilusi: Ini yang Paling Penting
Dilusi adalah dampak terbesar yang harus dipahami investor saat menghadapi rights issue. Ketika saham baru diterbitkan, total jumlah saham beredar bertambah sehingga porsi kepemilikan setiap pemegang saham (yang tidak ikut rights issue) otomatis mengecil.
Dilusi Kepemilikan
Contoh: PT ABC sebelum rights issue memiliki 1 miliar saham beredar. Kamu punya 10 juta saham = porsi 1%. Setelah rights issue dengan rasio 4:1, saham baru yang diterbitkan = 250 juta. Total saham jadi 1,25 miliar. Jika kamu tidak ikut rights issue, kepemilikanmu tetap 10 juta saham tapi porsinya turun jadi 0,8% terdilusi 20%.
Baca juga: Apa Itu FTSE Russell & Status RI?
Dilusi EPS (Earnings Per Share)
Selain porsi kepemilikan, rights issue juga mendilusi EPS laba per saham. Jika laba perusahaan tidak langsung naik proporsional dengan jumlah saham baru yang diterbitkan (yang memang tidak selalu terjadi segera), EPS akan turun. Ini yang biasanya menekan harga saham dalam jangka pendek setelah rights issue.
Theoretical Ex-Rights Price (TERP): TERP adalah estimasi harga saham setelah rights issue dilaksanakan, memperhitungkan efek dilusi. Formula: TERP = (Harga pasar × jumlah saham lama + Harga pelaksanaan × saham baru) ÷ (Jumlah saham lama + saham baru). Jika TERP lebih tinggi dari harga pelaksanaan, HMETD bernilai positif dan layak dieksekusi.

Tiga Pilihan bagi Pemegang Saham
Ketika perusahaan melakukan rights issue, pemegang saham lama pada dasarnya punya tiga pilihan:
1. Eksekusi HMETD (Subscribe)
Membeli saham baru sesuai jatah HMETD dengan membayar harga pelaksanaan. Ini mempertahankan porsi kepemilikan dari efek dilusi. Tepat dilakukan jika kamu yakin dengan prospek perusahaan dan punya dana untuk berpartisipasi.
2. Jual HMETD di Bursa
HMETD diperdagangkan di bursa selama periode perdagangan. Kamu bisa menjual HMETD dan mendapat kompensasi tunai untuk 'hak' yang kamu miliki tanpa harus mengeluarkan uang tambahan. Nilai HMETD di pasar biasanya mendekati selisih antara TERP dan harga pelaksanaan.
3. Tidak Melakukan Apapun (Lapse)
Membiarkan HMETD kedaluwarsa tanpa dieksekusi atau dijual. Hasilnya: kepemilikanmu terdilusi dan kamu tidak mendapat kompensasi apapun. Ini adalah pilihan terburuk dari sisi finansial kamu menanggung dilusi tanpa mendapat imbalan.
Pilihan mana yang terbaik? Secara finansial, mengeksekusi atau menjual HMETD selalu lebih baik dari membiarkannya kedaluwarsa. Pilihan antara eksekusi vs jual bergantung pada: apakah kamu yakin dengan prospek perusahaan, apakah kamu punya dana tambahan, dan apakah harga pelaksanaan masih menarik dibanding kondisi fundamental perusahaan.
Perbedaan Rights Issue dengan Aksi Korporasi Lain
Rights Issue vs Private Placement: rights issue ditawarkan ke semua pemegang saham lama secara proporsional; private placement langsung ke investor tertentu (institusi atau strategis) tanpa melalui pemegang saham lama. Private placement lebih cepat tapi lebih dilutif bagi pemegang saham minoritas.
Rights Issue vs Obligasi Konversi: obligasi konversi adalah utang yang bisa dikonversi menjadi saham di masa depan dilusi terjadi nanti. Rights issue menghasilkan dilusi langsung tapi perusahaan langsung dapat dana segar.
Baca juga: Pengertian Book Value, Rumus, dan Cara Menggunakannya
Kesimpulan
Rights issue adalah aksi korporasi yang sangat umum di BEI dan akan terus kamu temui sebagai investor saham Indonesia. Kuncinya adalah memahami tiga hal: berapa besar dilusi yang terjadi, untuk apa dana yang dikumpulkan, dan apakah harga pelaksanaan masih menarik secara fundamental.
Jangan otomatis takut dengan rights issue banyak rights issue yang merupakan katalis positif jika dananya digunakan untuk pertumbuhan bisnis yang konkret dan terencana. Tapi juga jangan abaikan tanda-tanda bahaya seperti rights issue untuk bayar utang atau pola rights issue yang berulang.
Kalau Anda ingin mulai belajar investasi saham dari nol tanpa bingung, Revalue Academy menyediakan Freeclass yang bisa Anda ikuti secara gratis. Daftar sekarang di revalueacademy.id dan ambil langkah pertama Anda hari ini.




