Apa Itu Yield dalam Investasi? Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya
20 Mei 2026
-
Waktu Baca 5 Menit
Pengertian Yield
Yield adalah imbal hasil atau tingkat pengembalian yang dihasilkan dari sebuah instrumen investasi dalam periode tertentu, biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase dari nilai investasi awal atau harga pasar saat ini. Dalam dunia investasi, yield adalah salah satu metrik terpenting untuk mengukur seberapa besar pendapatan yang diterima investor dari aset yang dimilikinya.
Secara sederhana, yield menjawab pertanyaan: “Dari investasi yang sudah kamu tanamkan, berapa persen pendapatan yang kamu terima setiap tahunnya?” Berbeda dari total return yang mencakup keuntungan harga (capital gain), yield spesifik mengukur pendapatan berkala seperti bunga, dividen, atau kupon yang diterima investor.
Konsep yield berlaku di hampir semua instrumen investasi, mulai dari obligasi, saham, reksa dana pendapatan tetap, deposito, hingga properti sewa.

Jenis-Jenis Yield dalam Investasi
1. Dividend Yield (Yield Dividen Saham)
Dividend yield mengukur berapa persen dividen yang dibayarkan perusahaan relatif terhadap harga sahamnya saat ini.
Dividend Yield = (Dividen per Saham per Tahun ÷ Harga Saham) × 100%
Contoh: Saham PT Tbk membayar dividen Rp200 per saham per tahun, dan harga sahamnya saat ini Rp4.000. Maka dividend yield = Rp200 ÷ Rp4.000 = 5%.
Dividend yield yang tinggi bisa menarik bagi investor pendapatan (income investor), namun yield yang terlalu tinggi bisa juga jadi sinyal peringatan, mungkin karena harga saham sudah turun drastis akibat masalah fundamental.
2. Bond Yield (Yield Obligasi)
Yield obligasi menunjukkan imbal hasil yang diterima investor dari kepemilikan obligasi. Ada beberapa varian:
Current Yield: Kupon tahunan dibagi harga pasar obligasi saat ini.
Yield to Maturity (YTM): Total imbal hasil jika obligasi dipegang hingga jatuh tempo, memperhitungkan harga beli, kupon, dan nilai nominal. Ini adalah yield obligasi yang paling komprehensif dan paling sering digunakan.
Yield to Call (YTC): Imbal hasil jika obligasi di-call (dilunasi lebih awal) oleh penerbit sebelum jatuh tempo.
Baca juga: AISC All-In Sustaining Cost?
3. Real Yield vs Nominal Yield
Nominal yield adalah yield yang tercantum tanpa memperhitungkan inflasi. Real yield adalah yield setelah dikurangi efek inflasi. Real yield yang positif artinya investasi benar-benar menghasilkan daya beli nyata, sementara real yield negatif artinya imbal hasil investasi tidak mengimbangi inflasi.
Real Yield ≈ Nominal Yield − Tingkat Inflasi
4. Earnings Yield (Yield Laba Saham)
Earnings yield adalah kebalikan dari P/E Ratio, menunjukkan berapa besar laba per saham (EPS) relatif terhadap harga saham.
Earnings Yield = (EPS ÷ Harga Saham) × 100% = (1 ÷ P/E Ratio) × 100%
Earnings yield berguna untuk membandingkan apakah saham lebih menarik dari obligasi. Jika earnings yield saham lebih tinggi dari yield obligasi pemerintah, saham dianggap relatif lebih murah.
5. Yield Deposito
Untuk deposito, yield adalah tingkat bunga deposito yang diterima per tahun. Namun karena bunga deposito dikenakan pajak 20% (di Indonesia), yield bersih setelah pajak perlu diperhitungkan.
Yield Bersih Deposito = Suku Bunga × (1 − Tarif Pajak)
Baca juga: Apa Itu Alokasi Aset?
Hubungan Yield dan Harga: Konsep Penting Obligasi
Salah satu hubungan paling penting dalam dunia investasi, khususnya obligasi, adalah hubungan terbalik antara yield dan harga:
Harga obligasi naik → Yield turun
Harga obligasi turun → Yield naik
Logikanya: jika kamu membeli obligasi dengan kupon Rp80.000 di harga Rp1.000.000, yield-mu 8%. Jika harga obligasi itu naik jadi Rp1.100.000 namun kuponnya tetap Rp80.000, yield bagi pembeli baru menjadi 80.000/1.100.000 = 7,3%. Hubungan ini penting dipahami karena pergerakan yield obligasi pemerintah (khususnya US Treasury) menjadi salah satu indikator makroekonomi paling diikuti di dunia.
Yield Curve: Apa Itu dan Mengapa Penting?
Yield curve adalah grafik yang menunjukkan yield obligasi pemerintah untuk berbagai tenor (jangka waktu), dari yang pendek (1 bulan) hingga panjang (30 tahun). Bentuk yield curve memberikan informasi penting tentang ekspektasi ekonomi:
Bentuk Yield Curve | Trader (Jangka Pendek) |
Normal (upward sloping) | Obligasi jangka panjang yield lebih tinggi. Kondisi ekonomi normal, pertumbuhan diharapkan. |
Flat | Yield pendek dan panjang hampir sama. Transisi atau ketidakpastian ekonomi. |
Inverted (terbalik) | Yield jangka pendek lebih tinggi dari jangka panjang. Sering dianggap sinyal resesi. |
Steep | Selisih yield pendek dan panjang sangat lebar. Biasanya saat awal pemulihan ekonomi. |
Inverted yield curve di AS secara historis menjadi salah satu indikator paling akurat yang mendahului resesi, meski tidak selalu terbukti.
Cara Membandingkan Yield Berbagai Instrumen Investasi
Perbandingan yield antar instrumen membantu investor mengalokasikan aset secara optimal:
Instrumen | Kisaran Yield (Indonesia, 2024) | Risiko |
Deposito bank besar | 4-5% | Sangat rendah |
ORI/ Sukuk Ritel (Pemerintah) | 6-7% | Sangat rendah (dijamin negara) |
Obligasi Korporasi Investment Grade | 7-9% | Rendah-menengah |
Dividend Yield IHSG rata-rata | 3-4% | Menengah |
Saham high-dividend (BUMN/ Perbankan) | 5-8% | Menengah |
Properti sewa | 3-5% per tahun | Menengah-tinggi |
Catatan: angka di atas adalah estimasi dan dapat berubah sesuai kondisi pasar dan kebijakan suku bunga.
Baca juga: Apa Itu Private Credit? Risiko & Cara Kerja
Kesimpulan
Yield adalah metrik fundamental yang mengukur imbal hasil pendapatan dari suatu investasi. Memahami berbagai jenis yield (dividend yield, bond yield, earnings yield) dan bagaimana yield berinteraksi dengan harga aset dan kondisi makroekonomi adalah keterampilan krusial bagi setiap investor. Dalam membandingkan instrumen investasi, yield menjadi salah satu tolok ukur utama untuk menilai apakah sebuah aset memberikan kompensasi yang layak atas risiko yang ditanggung.


