Apa Itu Selat Hormuz? dan Dampaknya pada berbagai aspek ekonomi.
19 Mei 2026
-
Waktu Baca 4 Menit

Apa itu Selat Hormuz?
Selat Hormuz adalah jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, dan selanjutnya menuju Samudra Hindia (Asia dan sekitarnya). Secara geografis, selat ini terletak di antara Iran di sisi utara dan Uni Emirat Arab serta Oman di sisi selatan.
Lebar selat hormuz terhitung “hanya” sebesar 39km. Namun, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia, khususnya dalam rantai perdagangan minyak dan gas bumi dunia.
Dalam konteks investasi dan dampaknya terhadap pasar saham, Selat Hormuz sering menjadi perhatian karena jika terjadi gangguan pada wilayah Selat Hormuz dapat memengaruhi harga komoditas energi secara drastis, yang pada akhirnya berdampak pada pasar keuangan global maupun domestik (Indonesia).
Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?
Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa. Berikut beberapa penjabaran akan betapa krusialnya selat ini:
Sekitar 20% (17–20 juta barel minyak) pasokan minyak dunia melintas melalui Selat Hormuz setiap harinya.
Berbagai negara penghasil minyak yang terletak di sekitar teluk persia seperti Iran, UEA, Arab Saudi, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada selat ini untuk mengekspor komoditas energi mereka.
Selat ini juga merupakan jalur utama pengiriman LNG (Liquefied Natural Gas) dari Qatar, salah satu produsen gas alam terbesar dunia.
Selain dari minyak dan gas, banyak orang belum sadar akan hal ini yaitu Selat Hormuz juga merupakan distribusi pupuk dan juga metanol.
Dengan kata lain, jika Selat Hormuz terganggu atau ditutup, dampaknya terhadap pasar energi global bisa sangat besar dan cepat dirasakan.

Hubungan Selat Hormuz dengan Pasar Keuangan
Bagi pelaku pasar, Selat Hormuz adalah indikator geopolitik yang perlu diperhatikan. Ketika ada ketegangan dan gangguan di kawasan ini, beberapa efek pasar yang umum terjadi antara lain:
1. Kenaikan Harga Minyak
Ancaman terhadap Selat Hormuz, seperti konflik militer, sanksi, atau pemblokiran, akan secara langsung mendorong harga minyak mentah (crude oil) naik tajam karena pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan. Seperti yang terjadi selama awal periode perang (akhir februari) hingga akhir maret dimana Brent oil naik dari level harga $70 ke level $110 (50%++) hanya dalam kurun waktu 1 bulan.
Baca juga: Apa Itu BI Rate? Fungsi dan Dampaknya pada Investasi Saham
2. Dampak pada Saham Sektor Energi
Kenaikan harga minyak umumnya menguntungkan perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi. Saham sektor energi seperti perusahaan eksplorasi minyak, kilang minyak, dan perusahaan transportasi energi biasanya akan mengalami kenaikan harga. Contohnya pada saham ELSA mencapai titik tertingginya di 1.000-1.050 selama periode perang perang dan sentimen Selat Hormuz yang ditutup.
3. Dampak pada Inflasi & Ekonomi
Harga minyak yang melonjak akibat sentimen ditutupnya Selat Hormuz dapat mendorong inflasi di seluruh dunia, karena minyak adalah input cost dalam biaya produksi hampir semua barang dan jasa. Hal ini dapat memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral dan juga berpotensi menjadi beban fiskal. Seperti yang terjadi di Indonesia bahwa asumsi APBN adalah menggunakan harga minyak $70, sehingga APBN Indonesia berpotensi melebihi batas defisit 3% jika harga minyak konsisten berada pada level harga > $90-100.
Baca juga: Apa Itu Akuisisi? Pengertian, Jenis, dan Dampaknya di Saham
4. Penguatan Aset Safe Haven
Ketidakpastian geopolitik di sekitar Selat Hormuz memicu investor untuk beralih ke aset safe haven seperti emas, obligasi pemerintah Amerika (US Treasury), dan dolar. Aset-aset ini cenderung naik nilainya ketika risiko geopolitik meningkat, atau dikenal dengan istilah “Flight to Safety”.
5. Potensi Kenaikan Biaya Distribusi
Dikarenakan ditutupnya Selat Hormuz yang berakibat pada beberapa kapal terjebak sehingga mengurangi supply kapal yang tersedia, dan juga efek dari perubahan jalur distribusi memaksa kapal untuk berjalan lebih jauh dari biasanya. Dua hal ini mengakibatkan kenaikan pada tarif sewa kapal yang berujung pada potensi inflasi dan juga kenaikan pada harga akhir pada.

Perbedaan Selat Hormuz dengan Jalur Energi Strategis Lainnya
Selain Selat Hormuz, ada beberapa jalur strategis lain dalam perdagangan energi dunia:
Terusan Suez (Mesir): Jalur antara Laut Merah dan Mediterania, penting untuk pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Eropa. Insiden kapal Ever Given pada 2021 sempat menghambat jalur ini.
Selat Malaka: Menghubungkan Samudra Hindia dengan Pasifik, jalur utama bagi energi yang menuju Asia Timur termasuk China, Jepang, dan Korea Selatan.
Selat Bab el-Mandeb: Jalur masuk ke Terusan Suez dari arah selatan, terletak antara Yaman dan Djibouti.
Selat Hormuz tetap dianggap yang paling kritis karena tidak ada jalur alternatif yang setara untuk ekspor minyak dari Teluk Persia.
Baca juga: Apa Itu Obligasi? Cara Kerja & Jenisnya
Kesimpulan
Selat Hormuz adalah jalur strategis yang memiliki pengaruh besar terhadap pasar energi dan keuangan global. Bagi investor, memahami situasi geopolitik di kawasan ini adalah bagian penting dari analisis risiko. Gangguan di Selat Hormuz dapat memicu volatilitas harga minyak, memengaruhi inflasi global, dan menggerakkan berbagai kelas aset investasi mulai dari saham sektor energi hingga emas dan obligasi.
Kalau Anda ingin mulai belajar investasi saham dari nol tanpa bingung, Revalue Academy menyediakan Freeclass yang bisa Anda ikuti secara gratis. Daftar sekarang di revalueacademy.id dan ambil langkah pertama Anda hari ini.


